<body>

Aug 30, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Berminat Jadi Anggota DTKJ?

Berhubung tidak ada ide posting (kok bisa ya, orang-orang pintar itu nulis terus nggak ada habisnya?), kali ini saya teruskan saja info dari sebuah milis. Barangkali ada yang ingin mencari wadah untuk menuangkan aspirasi. Saya titip harapan saja Smile.

Bagi teman-teman yang berminat jadi anggota Dewan Transportasi Kota DKI Jakarta (DTKJ), kesempatan pendaftaran masih 2 hari lagi, penutupan besok tgl. 31 Agustus 2007 jam 16.00. Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sekretariat panitia, Gedung Renuza lt. 3 Jln. Timor no. 10 Jakarta Pusat (tepatnya di belakang Plaza BII jl. thamrin).
Persyaratan dan formulir dapat dilihat di Sekretariat atau di website (Komite Penghapusan Bensin Bertimbel), www.kpbb.org
Pendaftar harus menetapkan (maksudnya memenuhi kali, ya?-mpokb) salah satu unsur dalam DTK pada waktu pendaftaran. Unsur ydm adalah (maaf tidak urut)
1. Perguruan Tinggi
2. Pakar (Sosiologi perkotaan, transportasi, ekonomi pembangunan dll yang
masih ada kaitannya dengan transportasi di wilayah urban)
3. Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO)
4. Pengusaha Angkutan Umum (di wilayah DKI, yang beroperasi di wil DKI Jakarta)
5. Awak angkutan kendaraan umum di DKI Jakarta
6. Masyarakat pengguna angkutan umum di wilayah DKI Jakarta

Syarat calon yang sangat penting adalah memiliki KTP DKI yang masih berlaku serta Surat Keterangan Domisili dari lurah setempat (jadi harus benar-benar orang yang tinggal di DKI Jakarta). Lalu harus ada referensi dari perorangan maupun lembaga.

Hal-hal lain silahkan lihat info di web atau ke sekretariat.

Terima kasih atas perhatiannya,
ellen tangkudung

Kalau di antara Anda atau kerabat ada yang berminat, silakan mendaftar.


PS :
1. Kok mepet sekali pemberitahuan ini muncul di milis yak?
2. Timbel, atau timbal?


Aug 22, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

sewindu, hari ini



Selamat ulang tahun, ya, Obik. Duh, maaf ya, Tante baru kasih selamat di malam hari. Tadi pagi, karena tergesa-gesa ke kantor, Tante nggak sempat nelepon. Sesampai di kantor, nggak mungkin nelepon kamu, karena kamu pasti sudah di sekolah, asyik belajar dan bermain. Menjelang sore hari, Tante nelepon ke rumahmu. Ternyata kamu belum pulang. Kata si Teteh, kamu baru akan pulang pukul 16.30. Entah kenapa, sewaktu jam segitu Tante nelepon lagi, kamu belum sampai juga di rumah. Apa karena mobil antar-jemputmu mesti putar-putar ke rumah teman-teman lain, terus terkena macet, ya? Omong-omong, belajar apa saja kamu hari ini?

Selamat ulang tahun, ya, Obik. Sejam yang lalu, kata si Teteh, kamu lagi panggil tukang sate di depan rumah, jadi Tante belum juga sempat bicara denganmu di telepon. Sekarang suaramu mulai serak. Rupanya kamu sudah ngantuk sekali. Iya, Tante tahu ini sudah pukul 21.30. Tante cuma mau kasih selamat, kok. Dengar-dengar matamu bengkak. Kata orang-orang, itu namanya bintitan. Kasihan, lagi ulang tahun kok bintitan. Tadi si Mbah sudah suruh kamu pakai salep, kan? Minta papamu yang oleskan. Kalau sudah pakai salep, tidak usah pakai bawang putih.

Selamat ulang tahun, ya, Obik. Kamu mau kado apa? Mau kucing? Apa, kelinci? Oh, ya. Pengganti si Choco dan si Vanilla, ya? Nanti kalau dimakan kucing, bagaimana? Bolehlah kalau mau ditaruh di belakang, biar nggak kabur juga seperti waktu itu. Kalau beli kelincinya sama-sama Obik, lebih enak lho. Obik bisa pilih warnanya, juga jenisnya. Apa? Tante saja yang beli? Oh, iya deh. Sepasang, laki-laki dan perempuan. Biar beranak banyak, ya? Ya, sudah. Nanti Tante usahakan kelincinya. Moga-moga hari Sabtu sudah ada. Sekarang kamu sudah mau tidur, kan? Selamat tidur, ya, Obik.


Aug 13, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

barang modern adalah barang plastik



Benda ini cocok untuk memuaskan ego saya, yang tidak mau dianggap malas tapi juga sebetulnya tidak rajin-rajin amat, dengan menyumbang sedikit tenaga dalam sebentuk keranjang plastik. Bentuk awalnya hanya berupa lembaran segiempat siap tekuk (di foto terlihat melengkung karena bekas tekukan). Kalau lembaran yang bolong-bolong itu ditekuk, gigi pengunci dipertemukan dengan irisan memanjang, dan bagian dasar yang setengah lingkaran ditutupkan, maka jadilah keranjang.



Menurut Mpok Lenong, pemberi benda keluaran IKEA ini, keranjang ini dipakai untuk tempat kantong kresek. Daripada melipat satu per satu kantong kresek menjadi bentuk segitiga atau menimbunnya secara tidak keruan di kantong kresek berukuran superbesar, kita cukup mencemplungkannya di dalam keranjang ini. Kalau diperlukan lagi, kantong kresek cukup ditarik lewat lubang-lubang di sekeliling keranjang. IKEA memang kreatif, dan trendi. Katalog-nya yang di Eropa dibagikan gratis, dijual seharga ratusan ribu di toko buku besar di Indonesia. Selain menjual furnitur, produsen ini juga melakukan hal yang dilakukan oleh Tupperware, yaitu menjadikan barang plastik 'naik kelas'. Soal apakah pembeli dan pemakainya juga bakal naik kelas, saya tidak tahu dan buat saya itu tidak penting.

Tadinya saya mengira, benda plastik biru tua ini semacam puzzle yang bikin puyeng tapi juga asyik. Setelah pembungkus saya buka, lho, ternyata plastik cukup ditekuk dan keranjang langsung jadi. Saya hanya garuk-garuk kepala. Mungkin produsennya tahu, sebagian orang modern, meskipun ingin menikmati tercurahnya tenaga dalam menghasilkan sesuatu, namun tetap tidak mau berlama-lama dalam mengurusi satu hal. Bukankah salah satu ciri-ciri orang modern adalah selalu merasa kekurangan waktu?


PS : Akhirnya si keranjang saya jadikan tempat gulungan kertas


Aug 2, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Le Strategy de Fatale

Menurut David Walker, ancaman ekonomi terbesar yang menghadang AS adalah ketidakacuhan. Selama hampir dua tahun ini, Walker melakukan perjalanan ke seluruh AS, mendesak masyarakat agar sadar sebelum terlambat., “Ancaman terbesar bagi AS bukan seseorang yang bersembunyi di gua di Afghanistan maupun Pakistan, melainkan keteledoran fisik kita sendiri,” ujar Walker.

David Walker adalah Comptroller General (= pengawas keuangan tertinggi) Amerika Serikat, Direktur Badan Akuntabilitas Pemerintah atau GAO (semacam Badan Pemeriksa Keuangan di Indonesia) yang menghitung pemasukan dan kerugian pemerintah serta kewajibannya di masa depan. Walker menyimpulkan, standar kehidupan rakyat AS saat ini tidak akan bisa dipertahankan kecuali jika diambil suatu langkah drastis.  Walker tidak sendirian. Hal ini disebut "rahasia kecil nan kotor yang diketahui semua pejabat Washington".

Dalam “tur penyadaran” yang didampingi ekonom dari Yayasan Heritage  yang konservatif, Lembaga Brooking’s yang kekiri-kirian dan Koalisi Concord yang nonpartisan, Walker menyampaikan sejumlah realitas finansial yang begitu menohok, hingga membuat mayoritas pejabat terpilih tak ingin membicarakannya. Justru karena itulah David Walker membicarakannya. Begitu buruknya, hingga Walker menyerah dengan para pejabat. Dia memutuskan untuk meneruskan pesannya secara langsung pada para pembayar pajak dan pengamat. Walker bercerita pada komunitas sipil, forum universitas dan dewan redaksi surat kabar, bahwa AS telah mempertaruhkan, menjaminkan dan meminjamkan diri ke lubang utang yang begitu dalam, hingga tidak akan bisa keluar jika tidak bertindak sekarang juga. Menurut Walker, keberlangsungan AS sedang dipertaruhkan. “Masyarakat AS kehilangan dua hal. Kebenaran dan kepemimpinan,” katanya. “Yang terjadi sekarang, kita menghabiskan lebih banyak uang daripada yang kita peroleh. Kita membebankannya pada kartu kredit dan berharap cucu kita yang melunasinya. Itu sungguh keterlaluan.”

Presiden Bush menilai perekonomian AS sedang baik. Jumlah pengangguran menurun, defisit lebih rendah daripada perkiraan. Faktanya, AS tidak menghadapi krisis dalam waktu dekat. Maka orang berkata, "Apa masalahnya?"

Menurut Walker, AS mengidap ‘kanker fisik’ yang tumbuh dalam diri masyarakat. Jika tidak diobati, ‘kanker’ itu akan menimbulkan malapetaka bagi AS. ‘Kanker’ yang dimaksud Walker adalah program tunjangan masif yang tak lagi bisa dibiayai oleh masyarakat, diperparah dengan kegagalan demografis sejak lebih dari 60 tahun lalu, yaitu lonjakan dramatis angka kelahiran yang disebut "Baby Boom". Mulai tahun depan dan 20 tahun setelahnya, sebanyak 78 juta penduduk AS akan menjalani pensiun dan menjadi beban para pembayar pajak AS. Pada tanggal 1 Januari 2008, Baby Boomer pertama akan berusia 62 tahun, berhak atas pensiun dini dan menerima jaminan sosial. Tiga tahun kemudian, mereka berhak atas Medicare (= asuransi kesehatan). Ketika kelompok Boomer ini pensiun dalam jumlah besar, akan terjadi pengeluaran besar-besaran yang bisa melumpuhkan perekonomian AS jika tidak diantisipasi. Jika ‘kanker’ ini dibiarkan terus-menerus, di masa depan pemerintah federal tak akan bisa berbuat banyak selain melunasi bunga utang yang menumpuk dan sejumlah tunjangan. AS bisa bangkrut, tak punya uang untuk hal lain seperti pertahanan nasional, keamanan dalam negeri atau pendidikan.

Menurut Walker, AS bisa menghilangkan pemborosan dalam anggaran Pentagon. Tapi, masalah anggaran jangka panjang akan tetap ada. Anggaran takkan cukup untuk membayar tunjangan kelompok Baby Boomer. Itu hanya sebagian masalah. Masalah sebenarnya adalah tunjangan kesehatan. Masalah tunjangan kesehatan AS lebih berat daripada tunjangan sosial. Masalah timbul karena usia orang lebih panjang dan biaya obat terus naik hingga inflasi jadi dua kali lipat. Alih-alih mengatasinya, Presiden dan Kongres justru memperburuk keadaan pada tahun 2003. Mereka memperluas program Medicare untuk membiayai obat yang diresepkan. Mereka menjanjikan lebih banyak daripada yang bisa dipenuhi. Tambahan $ 8 triliun pada $ 15 - 20 triliun yang tak terbiayai. Dengan sekali teken, pemerintah federal menambah kewajiban Medicare nyaris 40% selama 75 tahun mendatang.

Walker bukan ingin AS mengabaikan Medicare atau tunjangan obat. Dia yakin, sistem pengobatan di AS saat ini terlalu mahal, bahkan termahal di dunia. AS memakai 50% lebih banyak dari anggaran nasional untuk kesehatan dibanding negara mana pun. Dan AS punya persentasi populasi tanpa asuransi terbesar di antara negara-negara industri utama. Tingkat kematian anak AS di atas rata-rata, harapan hidup di bawah rata-rata. Dan kesalahan medis jauh lebih tinggi di atas rata-rata negara industri. Pemerintah AS menjanjikan pengobatan nyaris tak terbatas pada manula yang tak pernah melihat tagihannya.

Menurut Senator Ken Conrad dari North Dakota, mayoritas pejabat Washington menyadari buruknya masalah ini, tapi tak ada yang bertindak karena akan lebih mudah untuk tidak bertindak. Lebih mudah untuk menunda, menyembunyikan masalah itu dan menghindari penentuan pilihan. Pejabat bisa rugi secara politis jika menentukan pilihan. Namun, politikus yang berkata bahwa masalah bisa teratasi tanpa reformasi tunjangan sosial, Medicare dan Medicaid, berarti tidak berkata jujur.

Tahun depan, David Walker akan melakukan tur penyadaran ke sejumlah negara bagian utama. Menyampaikan pentingnya kenaikan pajak atau pemasukan pemerintah. Dan membatasi pengeluaran federal jika ingin mempertahankan keamanan ekonomi dan standar kehidupan saat ini. “Semakin lama kita menunggu, semakin kita terancam krisis keuangan. Jika Anda mengatakan kebenaran dan memberi fakta pada mereka, jika Anda menjelaskan bukan dengan angka, melainkan nilai, rakyat akan paham dan mendukung pejabat pilihan mereka untuk menentukan pilihan,” ujar Walker.

Ketika ditanya apakah Walker mengenal politikus yang tak mau menaikkan pajak dan memotong tunjangan, Walker menjawab, “Saya tak mengenal politikus yang suka menaikkan pajak atau memotong pengeluaran. Tapi, yang harus kita pahami, ini bukan sekadar tentang angka. Kita menggadaikan masa depan anak dan cucu kita. Itu bukan hanya masalah keteledoran fisik, melainkan masalah amoralitas.”

PS : Bagaimana dengan Indonesia? Akankah kita melakukan le strategy de fatale :  tidak berbuat apa-apa, dan mewariskan utang pada anak cucu, bahkan sebelum mereka lahir?

Seluruh tulisan diterjemahkan dan diringkas dari sini


Jul 23, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

yang tiba-tiba baik hati



Namanya juga zaman modern. Segalanya (harus) serba cepat, (harus) serba instan. Bagi sebagian orang, tidak perlu jadi orang rajin dan pintar untuk meraih gelar S1, S2 bahkan S3. Tidak perlu berusaha keras untuk punya uang banyak, asal kreatif, tahu celah dan taktiknya. Dan yang terakhir, tidak perlu jadi orang kaya untuk punya barang mewah di luar kebutuhan primer. Caranya? Mencicil!

Sekarang, semakin banyak bank yang tiba-tiba jadi baik hati, menawarkan pinjaman uang atau kredit tanpa persyaratan. Eh, baik hati? Bukan hadiah atau sumbangan, kok. Itu jelas-jelas membungakan pinjaman. Pantas saja prosesnya cepat, yang satu ini cuma 7 hari. Kalau pinjam dari teman, kerabat atau tetangga, bisa jadi harus menunggu lama. Belum lagi kalau dikasih petatah-petitih segala, atau jadi omongan orang.

Kata orang-orang yang paham soal ekonomi, uang yang ngendon lama di bank itu nggak sehat. Uang harus diputar. Tahu, kan, istilah "perputaran roda ekonomi"? Maksudnya, kalau di satu sisi ada produksi, di sisi lain harus ada konsumsi. Kalau produksi jalan terus, tapi konsumsi nggak jalan, roda ekonomi bakal mandek. Lama-kelamaan, produsen juga bakal rugi dan bangkrut. Bagaimana caranya supaya konsumen punya kekuatan untuk mengonsumsi? Dengan memberinya modal untuk melakukan kegiatan perekonomian yang produktif sehingga daya belinya naik? Ah, terlalu lama. Ingat, di zaman modern ini, kecepatan adalah kuncinya. Maka, kredit konsumtif menjadi jawabannya. Semakin konsumen bersifat konsumtif, semakin produsen terdorong untuk menjadi produktif. Dan, semakin cepat pula roda ekonomi berputar. Kalau masalah dampak sih, gimana nanti sajalah..



Jul 9, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

pekerja sayang, pekerja (jangan) malang

Peristiwa yang dialami oleh ke-1.500 karyawan P.T. Cadbury Indonesia tidak semanis cokelat buatan mereka, setelah Cadbury memutuskan untuk menghentikan kegiatan produksinya di Indonesia dan pindah ke Thailand. Para karyawan pabrik yang berkantor pusat di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur ini mengalami pemutusan hubungan kerja setelah kegiatan operasional pabrik dianggap tidak efisien lagi. Alasan yang dikemukakan pihak Cadbury adalah naiknya harga bahan baku.

Seperti halnya banyak industri lain, jalan yang dianggap masuk akal demi menekan biaya produksi (dengan keuntungan yang sama) adalah penambahan waktu kerja, pengurangan jumlah tenaga kerja atau pemakaian tenaga kerja yang lebih murah. Pilihan pertama dan kedua semakin lama semakin tidak populer, selain karena posisi tawar pekerja yang 'semakin membaik' (benar-benar tanda kutip), bisa jadi juga karena ada proses tertentu dalam rantai produksi yang tidak bisa tergantikan sepenuhnya dengan mesin. Oleh karena itulah, pemindahan pabrik ke wilayah dengan tenaga kerja lebih murah semakin banyak dipilih.

Bagi sebagian orang, pemutusan hubungan kerja atau PHK bukanlah akhir dari segalanya. Ada saja kisah sukses dari sekian individu yang justru menemukan penghidupan lebih baik secara mandiri ketimbang bekerja pada orang lain. Seingat saya, ketika salah seorang kerabat mengalami PHK sekitar 20 tahun lalu, tekanan yang dialaminya sangat berat. Entah bagaimana dengan sekarang, dalam kondisi ketika sebuah perusahaan bisa gulung tikar di mana saja dan kapan saja. Dan, sekali lagi, meskipun tidak pukul rata, posisi tenaga kerja di Indonesia bisa dikatakan 'semakin membaik' dibandingkan puluhan tahun lalu.

Generasi kakek nenek atau ayah ibu kita mungkin masih menjunjung tinggi loyalitas pada tempat mereka bekerja. Ada ikatan emosional yang kuat -bahkan sangat kekeluargaan- antara atasan dengan bawahan, antara pemilik usaha dengan karyawan. Generasi sekarang? Sudah tidak aneh lagi jika seorang karyawan mengundurkan diri dengan mengemukakan alasan terus terang akan bekerja di tempat lain. Apalagi di perusahaan besar. Rasa sungkan mungkin ada, tapi mungkin lebih ke hubungan personal antarkaryawan atau atasan-bawahan. Secara keseluruhan, perusahaan akan tetap stabil dengan keluar-masuknya satu atau dua karyawan.

Satu hal yang tidak bisa diubah adalah kemungkinan dilaksanakannya PHK akan selalu ada. Mengapa? Ini terkait dengan keinginan perusahaan untuk selalu berekspansi. Ekspansi berarti penyerapan tenaga kerja baru, hingga jika pada suatu titik ketika pasar telah jenuh (misalnya akibat kompetensi atau daya beli menurun), dan efisiensi pertama yang dilakukan adalah rasionalisasi tenaga kerja alias PHK. Akan terasa tidak adil jika tenaga kerja harus selalu mengerahkan tenaga dan loyal kepada perusahaan, bahkan memperbaiki kualitas diri demi menunjang keinginan ekspansi pemilik modal, padahal di satu sisi posisinya rentan terhadap PHK. Mirip cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Mungkin benar, perusahaan akan selalu merasa pekerjanya kurang produktif dan sebaliknya para pekerja akan selalu merasa perusahaan menuntut terlalu banyak dari dirinya. Menurut saya, di atas segala-galanya, tugas profesi adalah hal utama yang harus diprioritaskan oleh para pekerja. Dia dibayar untuk melaksanakan tugas dan karena dia bekerja setiap hari, sudah selayaknya dia mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk kembali melaksanakan tugas keesokan harinya "dengan kinerja stabil". Dengan demikian, upah itu bukan sekadar imbalan atas pelaksanaan tugas, tetapi juga untuk pemeliharaan tenaga agar kondisinya tetap terjaga selama hari-hari berikutnya. Agar si pekerja tetap hidup dan produktif ! Big Smile.

Cukuplah bagi pekerja untuk mencurahkan 8-10 jam per hari bagi perusahaannya. Dan, sisa waktunya bisa digunakan untuk pemulihan tenaga dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak harus melulu berhubungan dengan perusahaan. Mungkin ada di antara Anda yang meyakini bahwa bekerja adalah salah satu bentuk ibadah (termasuk saya, tentu saja), izinkan saya sekadar mengingatkan bahwa sistem kapitalisme yang menguasai sebagian besar dunia kita sekarang ini adalah buatan manusia, bukan Tuhan Shades.

PS : Anda mengira para ibu rumah tangga tidak bekerja? Salah! Merekalah para penghasil dan pemelihara tenaga kerja yang sebenarnya sejak ribuan tahun lalu


Jul 4, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

transaksi itu bernama pernikahan (kata saya)

Baiklah, kali ini posting tentang pernikahan, menurut sudut pandang saya. Bukan karena sok tahu lantas mau kasih petatah-petitih atau apa, tapi sekadar berbagi dengan Anda sekalian. Uneg-uneg yang muncul karena belakangan ini nikah siri sudah menjadi sesuatu yang biasa dan "terterima".

Sebagian besar orang menganggap bahwa pernikahan merupakan perwujudan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Tapi, khususnya di dunia Barat, anggapan ini sedikit demi sedikit gugur karena pada kenyataannya ada pasangan yang bisa hidup bersama bertahun-tahun meskipun tidak mengikat janji di depan Tuhan. Titik. Eh koma, karena itu khusus di dunia Barat. Kalaupun ada orang Timur yang berbuat seperti orang Barat, mereka pasti sudah siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi. Yang jelas, kalau ada pasangan memiliki anak di luar nikah, si anaklah yang akan menjadi korban. Akte kelahiran tidak akan bisa dibuat tanpa ada bukti nikah. Konsekuensi ini berbuntut panjang, karena menyangkut hak anak, menyangkut warisan, pendidikan dan lain-lain.

Bayangkan suatu kondisi terburuk, ketika seorang anak yang lahir di luar nikah tiba-tiba menjadi anak yatim. Dengan tidak adanya bukti hitam di atas putih, sulit sekali baginya untuk menuntut hak dari si ayah. Pernikahan bertujuan untuk melindungi pihak yang dianggap lemah, yaitu anak dan perempuan. Baiklah, kalau di zaman sekarang seorang perempuan mungkin tidak lagi lemah secara finansial, tapi percayalah. Selama ribuan tahun wanita memperjuangkan hak untuk bisa diakui, dan selama ribuan tahun pula mereka selalu berada dalam bayang-bayang pria. Secara teoretis dan logis, tidak mungkin memperbandingkan dua hal yang sama sekali berbeda, lantas menyimpulkan bahwa yang satu lebih lemah dari yang lain. Namun sayangnya, secara praktis, itulah yang terjadi. Dan untuk itulah pernikahan dibutuhkan. Pernikahan ada, diterima, bahkan oleh banyak kalangan diharuskan, karena pemikiran pragmatis.

Tidak mungkin memisahkan pernikahan dengan nilai-nilai religius, karena pernikahan adalah janji sakral di depan Tuhan. Tapi, syarat pernikahan dalam agama yang saya anut membuat saya berpikir bahwa ini bukan urusan agama belaka. Ini semacam transaksi bisnis antara dua rekanan yang berlandaskan rasa saling percaya untuk bekerja sama. Transaksi bisnis, lengkap dengan "tanda jadi" sebagai segel berupa mas kawin.

Sekarang bayangkan bila perusahaan yang Anda ajak kerja sama, tiba-tiba ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan lain. Apakah Anda ingin tetap melibatkan diri dengan melanjutkan kerja sama yang sudah berjalan? Atau Anda merasa rekanan Anda tidak akan mampu mempunyai lebih dari satu rekanan sekaligus, dan khawatir hak-hak Anda tidak akan dipenuhi? Jelas, sebagai pemilik perusahaan Anda berhak menuntut jika ada kelalaian dari pihak rekanan. Hak Anda tertera hitam di atas putih, lengkap dengan bukti bersegel. Kepentingan perusahaan Anda ada di atas segala-galanya. Dalam pernikahan, kepentingan ini tidak melulu bersifat materil, tapi juga moril. Kelihatannya mudah, padahal susah.

Bagaimana kalau Anda sebagai pihak yang ingin membuat transaksi dengan perusahaan yang sudah menjalankan kerja sama dengan rekanan lain? Tentunya Anda harus menerima jika rekanan lain tersebut ingin melindungi segenap kepentingannya, terlebih dia adalah pihak yang memang berhak untuk itu. Tidak bisa tidak, Anda membutuhkan persetujuan dari rekanan yang sudah lebih dulu menjalin kerja sama. Transaksi tidak akan sah jika dilakukan tanpa sepengetahuan rekanan lama.

PS : Ada yang bisa kasih info tambahan? Mari berdiskusi. Ini memang postingan yang membingungkan dan sungguh-sungguh di luar wilayah kekuasaan saya. Apa boleh buat, sudah telanjur terketik Shocked


Jun 23, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Isi Kepala yang Berbahaya



Apa sih isi kepala seorang kreator acara TV yang dianggap tidak bermutu?

Film "Confessions of A Dangerous Mind" diangkat dari buku berjudul sama, ditulis oleh Chuck Barris yang sekaligus menjadi tokoh sentral kisah ini. Film mengisahkan perjalanan karier Barris sebagai penulis lagu hingga menjadi pencipta sekaligus pemandu acara kuis-kuis yang sangat laris di jaringan TV Amerika Serikat pada tahun '70-an. Acara ciptaannya yang terkenal antara lain adalah kuis "The Gong Show", "The Dating Game" dan "The Newlywed Game".

Selain menjadi "orang TV", Barris dikisahkan terlibat dalam berbagai kasus pembunuhan. CIA yang menyelidiki riwayat hidup Barris rupanya memutuskan bahwa profilnya cocok untuk dipekerjakan sebagai agen rahasia, tepatnya pembunuh bayaran, guna menghabisi orang-orang yang dianggap mengancam keamanan nasional AS. Barris merelakan diri untuk mengikuti rekrutmen setelah dibujuk seorang agen perantara yang meyakinkan pentingnya patriotisme dan bahwa tugas itu adalah kewajibannya sebagai warga negara. Setelah menjalani serangkaian pelatihan kemiliteran dan strategi membunuh, Barris pun siap menjadi agen rahasia. Demikianlah, meskipun pada siang hari dia menghibur jutaan pemirsa TV dengan kuis, bisa jadi pada malam harinya dia beraksi sebagai pembunuh berdarah dingin.

Karier Barris yang sedikit demi sedikit menanjak pun tidak luput dari kejamnya industri TV yang sangat tergantung pada rating. Begitu acaranya dianggap tidak menguntungkan lagi, para petinggi jaringan TV akan langsung memutus kontrak. Beberapa acara ciptaannya terpaksa diputus di tengah jalan. Barris dituntut untuk selalu membuat acara yang segar, sensasional, memikat penonton dan menjaring pemasang iklan. Di pihak lain, Barris dituduh sebagai perusak standar acara TV di Amerika dan penyebab mundurnya peradaban. Barris telah membuktikan secara langsung, bahwa demi ketenaran dan uang, jutaan orang Amerika rela mempermalukan diri sendiri di TV. Juga mengungkapkan keburukan pasangan masing-masing "hanya demi sebuah mesin pemotong rumput". Seakan-akan segala hal begitu terukur dan terbeli dengan uang dan materi.

Tidak seorang pun tahu, apakah film dan buku ini merupakan murni autobiografi Chuck Barris. Juga tidak seorang pun tahu, bagaimana tekanan yang dihadapi Barris sesungguhnya. Film ini juga memuat beberapa wawancara dengan rekan-rekannya sesama selebrita TV. Salah satu kesaksian menyatakan bahwa Barris tidak suka dikritisi, dia tidak sanggup menerima kritik. Sebuah adegan memperlihatkan betapa Barris kontan merasa mual setelah seorang gadis jelita di kolam renang berkata pedas pada Barris. "Acara-acaramu memuakkan, memanfaatkan nasib orang-orang malang yang hanya membutuhkan sedikit perhatian. Memangnya siapa kamu, berani-beraninya meninggikan dirimu di tengah massa yang menyedihkan?"

Di puncak kariernya sebagai pemandu kuis "The Gong Show", Barris memutuskan untuk tidak lagi menjadi pembunuh bayaran. Dia merasa tidak sanggup menjalani kehidupan ganda dan terus-menerus dihantui sekian pembunuhan yang dia lakukan. "Saya tidak mau membunuh orang lagi, saya hanya ingin menghibur mereka," ujarnya. "Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan hiburan." Begitulah pendapat Barris tentang acara-acara ciptaannya.

Film ini mengasyikkan, penuh kejutan plot dan visualisasi dramatis, juga menghibur mereka yang ingin melihat akting "lain dari yang lain" George Clooney maupun Julia Roberts. Orang-orang boleh saja berdebat tentang kebenaran isi ceritanya, CIA pun sampai merasa perlu untuk memberi penyangkalan, namun pribadi Chuck Barris yang kontroversial memberi kebebasan kepada para penonton film dan pembaca buku untuk menilai, apakah ini benar-benar kisah nyata seluruhnya atau hanya sebuah autobiografi yang diberi sentuhan drama. Di dunia yang tampak semakin plastis dan lentur ini, ungkapan "percayalah apa yang ingin kamu percayai" memang jadi terasa lebih bermakna, sekaligus mengusik.

Judul film  : "Confessions of a Dangerous Mind" (Desember 2002)
Sutradara : George Clooney
Produser  : Andrew Lazar
Penulis     : Chuck Barris (buku) dan Charlie Kaufman (skenario)
Pemeran  : Sam Rockwell, Drew Barrymore, George Clooney, Julia Roberts dll

Gambar diambil dari sini


Jun 14, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Harga Sebuah Mitos

+ Mbak, harga kopi luwak ini berapa sih, ya?
- Ooh.. Yang ini satu pak Rp. 1,5 juta, Mbak.
+ Haaa..? Masak sampai segitu? Isinya seberapa? Ada setengah kilo kali, ya?
- Nggak sampai, ini sedikit. Paling-paling cuma 85 gram *senyum*.
+ Lho? Sedikit amat?
- Memang mahal, Mbak. Soalnya per kilo bisa sampai US$ 1,000
+ Kok bungkusnya besar? Boleh lihat, ya? (Lhoh, ada foto si luwak di kemasannya. Aiiih... Lu lagi, lu lagi)
- Iya. Ini memang kelihatan besar, isinya seperti ini. Ada fotonya *membalikkan kotak dan memperlihatkan gambar bagian dalam kemasan*. Masih berupa biji kopi, belum digiling. Kantongnya kedap udara.
+ Oh, giling sendiri.. *masih sulit berkata-kata*
- Iya, supaya aromanya terjaga. Nggak harus dengan mesin giling, kok. Ditumbuk sendiri juga bisa

Menurut buku "The Connoisseur's Guide to Coffee" karya Jon Thorn dan Michael Segal, kopi Indonesia mendapat nilai rata-rata tertinggi "excellent" atau bintang tiga, di atas "good" dan "fair". Lebih tinggi daripada milik eksportir kopi terbesar di dunia, Brazil, yang hanya dapat bintang dua atau "good". Sungguh membanggakan. Akan tetapi, saya tidak tahu, apakah kopi yang dikonsumsi sehari-hari oleh orang Indonesia kebanyakan seperti saya (yang membeli bubuk kopi di pasar maupun toko swalayan) berkualitas sama dengan kopi yang diekspor ke mancanegara. Terus terang saya ragu. Yang jelas, harga kopi cenderung naik, dan itu membuat para pialang bursa komoditi tersenyum cerah. Grace, seorang kawan semasa SMP, pernah menjadi pialang bursa komoditi. Dia senang, baru beberapa minggu bekerja sudah dapat komisi gede gara-gara bagusnya harga kopi. Saya ikut senang saja dengan ceritanya, soalnya biarpun dia pingin mengajari saya jadi pialang, saya lebih suka jadi peminum kopi Big Smile.

Kembali ke kopi luwak. Kalau kopi kualitas ekspor itu dapat bintang tiga, mungkin untuk kopi luwak sendiri bisa dapat bintang empat atau lima sekalian. Hehehe, tapi rasanya kok nggak tega ya, beli kopi 85 gram seharga Rp. 1,5 juta. Sempat berkhayal, kalau saya punya luwak beneran dan setiap hari dikasih makan buah kopi, tentu bisa jadi saudagar. Dengan catatan, ada yang mau membeli. Uniknya, menurut sejumlah info, misalnya ini, kopi luwak sekarang tinggal mitos saking langkanya. Beternak luwak untuk budidaya kopi, mungkin belum terpikir di sini. Kalau saya sih, kasihan. Demi menghindarkan eksploitasi luwak, biarlah kopi luwak bergeser menjadi mitos. Asal bukan kehidupan sejahtera petani di negara agraris yang tinggal mitos.

PS : Bagaimana kalau kita nikmati kopi luwak segar yang ini saja?

Gambar favorit saya ini diambil dari sini


Jun 5, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

ada badak-badak lagi!

Hari Minggu, 3 Juni 2007, adalah ulang tahun Bogor yang ke-525. Tapi, berhubung satu dan lain hal saya tidak bergabung dengan warga kota lainnya yang memenuhi pusat-pusat kegiatan di beberapa titik. Dari dalam rumah saja sudah terdengar raungan ratusan kendaraan bermotor dan cerewetnya klakson di jalan raya di depan kompleks perumahan saya. Libur panjang tiga hari, ditambah banyaknya kegiatan, tentu saja berarti kemacetan. Bahkan untuk kota sekecil Bogor (iya, kecil, yang besar itu kabupaten, bukan kotamadya-nya).

 

Terdorong rasa penasaran dengan stand pameran badak di Pameran Lingkungan Hidup, maka berangkatlah saya dan ibunda ke sana. Setiba di lokasi, pengunjung langsung disambut rangkaian poster berisi informasi seputar badak dan penangkarannya. Dibuka juga pendaftaran bagi mereka yang ingin menjadi anggota Forum Badak Indonesia.

 
Yeni, Ghilman, Nia, Wanya

Di lokasi pameran, kami bertemu keluarga blogger yang kondang itu. Salah satunya ikut kena jepret kamera saya. Hayo, putra dari keluarga manakah dia? Kalau Anda bisa menjawab, silakan minta hadiah pada orang tuanya saja Big Smile. Ternyata, sang ayah jadi salah satu pembicara di acara pameran itu. Tentang apa? Anda pasti tahu, yang jelas bukan tentang badak Big Smile.


Suasana pendaftaran anggota baru FBI


Badak jawanya kok bisa senyum yak?

Salut sekali melihat semangat badak para anggota FBI ini. Menyuarakan pentingnya konservasi badak dari pameran ke pameran, dari sekolah ke sekolah. Sosialisasi memang sebaiknya dilakukan sejak dini, sebab di tangan mereka yang kini masih berseragam dan bau kencur itulah kelak nasib badak digantungkan. Kecintaan dan ketertarikan memang tidak hanya dengan kaos, stiker atau boneka badak, tapi juga melalui pemahaman akan pentingnya konservasi. Ada yang berminat dengan kegiatan sosialisasi ini untuk anak, murid atau keponakan? Silakan kontak FBI, tapi jangan FBI nyang ono..


Kepala badak gabus






Blogdrive